Selamat Datang !!! Anda Sedang Mendengarkan Radio Canggai Putri 105.3FM Radio Pemkab Karimun Kepulauan Riau Indonesia #Alamat : Jalan Pertambangan 8 Sei Ayam Tanjung Balai KARIMUN Kepulauan Riau [Riau Islands] Tel Studio: +62 777 327000 Tel/Fax: +62 777 327424
Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » Tolak Tambang di NTT, Mahasiswa NTT Buat Foto Selfie

Tolak Tambang di NTT, Mahasiswa NTT Buat Foto Selfie

Written By Radio Canggai Puteri FM on Rabu, 25 Maret 2015 | 13.16

rcpFM - Sejumlah mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berkuliah di Yogyakarta, Bandung, Semarang, Jakarta, Surabaya melakukan aksi penolakan kegiatan pertambangan di NTT. Aksi dilakukan dengan membuat foto selfie yang bertuliskan penolakan terhadap semua jenis pertambangan yang ada di NTT. 

“Pertambangan tidak sesuai dengan struktur dan topografi pulau-pulau di NTT yang masuk kategori pulau kecil. Kehancuran alam dan lingkungan hidup akan susah direklamasi dan sudah pasti anak cucu kita akan sengsara dengan semua kehancuran yang ditinggalkan,” kata Sekretaris Eksekutif Liga Mahasiswa Pascasarjana (LMP) NTT Periode 2015, Memy Jedo di Yogyakarta, Rabu (25/3/2015).

Mahasiswa UGM ini mengatakan, kampanye humanis ini akan berlangsung hingga satu minggu.

Sementara itu, koordinator aksi, Dell Manek Tefa, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan menggerakan para pengambil kebijakan di NTT agar segera berpikir untuk meninggalkan industri tambang yang dinilai keliru.

“Kami berharap dengan kampanye yang humanis dan penggalangan dukungan dengan basis kultural ini, para pengambil kebijakan di Provinsi NTT bisa segera berpikir mengenai kebijakan-kebijakan yang produktif dan segera meninggalkan industri ekstraktif pertambangan yang keliru,” kata Tefa.

Pada Kesempatan yang sama, koordinator umum Liga Mahasiswa Pascasarjana (LMP) NTT, Dewi Anastasia Ipah Wuwur berharap, kampanye ini menggugah mahasiswa asal NTT untuk melihat alam secara adil.

Mengenai industri ekstraktif yang berorientasi negatif, pakar Kebijakan Publik UGM asal NTT, Gabriel Lele mengatakan hal ini bertolak-belakang dengan semangat pembangunan berkelanjutan.

Gabriel mengatakan, informasi mengenai rusaknya tempat-tempat ritual adat, serta lahan pertanian dan ladang menunjukkan rendahnya keseriusan dan komitmen pemerintah daerah dalam memikirkan kesejahteraan yang sesungguhnya.

Sumber : Kompas.com
Comments
0 Comments